Home / SURAT TERBUKA / Menjadi Remaja Idola | GenRe

Menjadi Remaja Idola | GenRe

loading...

Remaja Harus “GENRE”

(M.Mansyur , S,Kom.I)

Remaja saat ini seakan menjadi momok menakutkan bagi keberlangsungan RI yang madani. Remaja Indonesia dekade 2000-an ini sangat berbeda dengan remaja generasi sebelumnya. Era globalisasi menyediakan pilihan informasi yang sangat kaya bagi siapa saja termasuk bagi para remaja . globalisasi informasi disadari atau tidak,telah meliberalisasi cara berfikir , cara bersikap dan cara bertindak generasi muda. Dan diantara perubahan dari transisi tersebut ada yang positif dan ada pula yang negatif,untuk kenegatifan itu merefleksi pada pola hidup remaja dengan memberikan pengaruh buruk bagi individu atau sekitarnya. Yang dalam hal ini sering disebut dengan kenakalan remaja.

Remaja dan permasalahannya

Permasalahan remaja saat ini sangat kompleks dan mengkhawatirkan. Dikarenakan para remaja mempunyai sifat yang permissif dengan gaya hidup masa kini. Kekhawatiran permasalahan inipun sangat beralasan,seperti yang dapat dilihat dari hasil-hasil penelitian para lembaga. Contohnya menurut survey Komnas Perlindungan Anak di 33 provinsi 2008 menyimpulkan : 97 % remaja SMP dan SMA pernah menonton film porno,93,7 % pernah kissing ,genital stimulation dan oral sex, 21,2 % remaja mengaku pernah aborsi. Data BNN pada tahun 2008 mendapatkan data bahwa 1,5 % dari jumlah penduduk Indonesia (sekitar 3,2 juta jiwa) adalah pengguna narkoba. Diketahui pula dari jumlah tersebut 78 % diantaranya adalah remaja dan dari data tersebut sekitar 800.000 diantara remaja madat narkoba adalah pelajar dan mahasiswa menggunakan jarum suntik. Sebesar 60 % dari pengguna jarum suntik tersebut sudah terjangkit HIV/AIDS. Di pertegas pula oleh data dari Depkes-maret 2009,secarta komulatif jumlah kasus AIDS adalah sebesar 16.964 kasus dan 53.58% dari jumlah tersebut adalah remaja.

Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa perilaku sebagian besar remaja Indonesia saat ini cenderung tidak sehat. Untuk kelompok remaja yang berperilaku seperti ini pastilah tidak dapat dikatakan sebagai asset keluarga ,masyarakat dan bangsa. Nah,pertanyaanya adalah,mengapa remaja Indonesia berperilaku tidak sehat seperti itu? ,salah satu penyebab kenakalan remaja adalah karena para remaja kurang memahami dan kurang mendapatkan informasi mengenai pengetahuan kesehatan remaja ,juga tidak mempraktekan pola hidup sehat.

Adapun sebab-sebab lain dari permasalahan remaja tersebut seperti lingkungan keluarga yang terjadi Disharmonisasi didalamnya,lingkungan sekolah yang kurang mendisiplinkan siswanya,lingkungan masyarakat sekitarnya,media yang dioperasikan ke hal-hal negative,bahkan dari kelompok sebaya tersebut. Jika dalam kehidupan remaja seperti dilingkungan keluarga,sekolah dan masyarakat ,remaja merasa tidak nyaman (uncomfortable) dalam teori sosiologi (sunarti,2008) disebut kehidupan yang “hurry –busy and lonely crowd” . kesepian dalam keramaian,maka kehidupan remaja dilingkungan dimedia massa dan kelompok sebaya merasa “Betah” dan menikmati,dalam teori organisasi sebagai system dynamis (stahle,2001) disebut sebagai kehidupan yang “establishing relationship and connected” atau menyambung dan menyatu.

Namun sayangnya,kedua ciri kehidupan remaja ini ,yaitu : kesepian dalam keramaian dan menyambung – menyatu ,tampaknya masing-masing mempunyai andil tersendiri terhadap perilaku tidak sehat remaja. Kehidupan yang tidak nyaman dalam keluarga ,sekolah dan masyarakat mendorong para remaja mencari kehidupan atau lingkungan yang lebih “pas” dengan perkembangan mereka,yang disesuaikan dengan perkembangan zaman masa kini. Dan lingkungan yang dicari itu diketemukan dilingkungan media massa,terutama website,telpon seluler,TV dan radio atau lingkungan pergaulan dengan sebayanya yang liar. Jika hijrahnya remaja kepada lingkungan seperti itu tanpa didasari dengan mental sehat dan didukan oleh teman sebaya yang positif lainnya,tidaklah heran jika pornografi,informasi-informsi tak bermoral ,tindakan nakal remaja lainnya yang mereka cari dan jalani demi kepuasan tersendiri. Lalu,jika kebebasan demi kebebasan negatif telah menjadi bagian hidup remaja,maka terjadilah perilaku seksual pranikah,konsumsi narkoba,dan sebagai ikatannya terjangkit HIV/AIDS,yang datanya telah ditunjukan diatas.

Harus “GENRE”

Sudah harusnya meyakinkan diri kembali jika remajalah penerus masa depan sejati,terkhsus untuk lampung: dari jumlah penduduk lampung yang mencapai 7,5 juta jiwa dan 30 %-nya merupakan remaja usia 10- 24 tahun . Lampung 5 tahun sampai 20 tahun kedepan di tentukan oleh remaja saat ini, namun jika para pendidik dan Pembina remaja saat ini lengah,janganlah heran jika di kemudian hari lampung dipimpin dan di pegang alih oleh para penguasa yang konsumtif narkoba,pelaku free sex,pengidap HIV/AIDS karena penularan negative,dan sebagainya yang kian merajalela saat ini. Pastilah kita tidak ingin ini semua terjadi,maka jalan satu-satunya adalah dengan membantu para remaja menjadi “GENRE”(generasi berencana).

Bagi para orang tua ,pendidik atau konselor sebaya , sampai ke komponen pemerintahan, tentunya harus sudah mengetahui perpsketif tugas perkembangan kehidupan remaja (adolescent tasks development) sebagai masa-masa transisi. Dalam transisi ini,remaja diharapkan untuk dapat menjalani dan berhasil dalam dua tugas pertumbuhan dan perkembangannya. Tugas pertama adalah tugas untuk bisa tumbuh dan berkembang secara individu (individual growth and development). Tugas kedua, adalah(menururt WHO), tugas untuk bisa berkembang secara social,diantaranya melanjutkan sekolah,mencari pekerjaan,membentuk keluarga,menjadi anggota masyarakat dan mempraktekan hidup sehat .

Dan untuk mencapai tujuan transisi perkembangan tersebut,remaja haruslah di bantu dalam perencanaan masa depannya (GENRE). Diantaranya membantu merencanakan pendidikannya,berkeluarga dan profesi. Itu semua harus direncanakan sejak dini guna pencapaian yang baik dan maksimal. Dan proses perencanaan itu harus disertai dengan penerapan pola hidup sehat ,terhhindar dari free sex,NAPZA,HIV/AIDS dan perilaku berisiko lainnya agar perencanaan itu tidak sia-sia.

Membantu remaja menjadi GENRE tidaklah untuk para remaja yang masih sehat dan belum berisiko saja. Bagi remaja yang sudah terjangkit kedalam virus kenakalan remaja, tentulah menjadi PR serius bagi para pemerhati yang peduli pada remaja. Terdapat dua pilihan dalam hal ini,apakah Stagnan atau dinamis ,sendiri atau kelompok. Cara mengatasinya adalah perlu adanya pendekatan kelompok sebaya guna memberikan motivasi dan informasi baru bagi mereka. Karena menurut survey,remaja cenderung terpengaruh oleh sebayanya,yakni sekitar 71 % dari pada orang tua yang hanya 31% (BKKBN,2010).

Jika semua element membantu dalam perencanaan masa depan remaja. Maka tujuan itu akan mendapatkan multi effect (hasil) yang akan dirasakan sekarang dan nantinya. Yakni, tercapainya ketahanan remaja yang sehat serta menjadi idola bagi sebayanya , terjaminnya keberlangsungan perkembangan remaja dengan disertai meningkatnya rata-rata pengetahuan remaja tentang kesehatan remaja yang akhirnya tercapai perencanaan masa depan yang dinamis. Majulah Remaja

Related Post

loading...

Check Also

Proposal Hidup

loading... Tuhan – Inilah proposal hidupku. Bismillahirrahmaanirrahiim  “Jika engkau tidak memiliki rencana yang jelas, maka …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *