Home / CERPEN / Pak Guru, Kapan Datang Kembali ?

Pak Guru, Kapan Datang Kembali ?

Foto : Dokumentasi Tri Sujarwo
loading...

Malam mulai beranjak. Bintang yang bertebaran di angkasa seolah tak tampak. Lampu-lampu penerang rumah sudah dinyalakan sejak beberapa jam yang lalu. Ponselku berdering. Berkali-kali. “Nomor baru rupanya,” batinku. Sesaat kuangkat. Batinku langsung tersengat, mendengar suara yang tak asing untuk kembali kuingat.

“Bapak guru, Gerson ni,” suara lantang terdengar mengiang di telingaku. Lamunanku kembali tertuju pada sebuah kampung kecil di pelosok Pulau Yapen, Sambrawai.
“Sa lagi di kota. Makanya sa bisa telpon Pak Guru,” suara itu kembali berkerumun di telingaku. Rasanya ingin menangis. Memeluk bocah pendiam yang senang sekali difoto itu.
“Wah, Gerson. Ko apa kabar?” tanyaku penasaran.
“Sa baik-baik saja, Pak guru. Sa pi rumah kontrakan Bapak Desa minta Pak guru pu nomor,” jelasnya sebelum kutanya dari mana dia mendapatkan nomorku.
“Pak guru kapan datang kembali?” tanyanya lagi.
Tetiba aku terdiam. Menyiapkan jawaban. Menatanya agar enak didengar. “Pak guru tara tahu kapan ke Sambrawai lai. Insya alloh kalau ada rezeki Pak guru datang kembali, tapi tara tau kapan,” jawabku.

Telpon terputus. Tak ada suara dengan nada meliuk melengking lagi. Lalu sahutan dialek Jawa dengan aksen Ngapak terdengar dari atas loteng rumahku. Seolah mengatakan bahwa aku sudah di Ambarawa bukan Papua lagi.

Gerson adalah satu-satunya muridku yang naik kelas dengan syarat. nilai-nilainya bagus dan sudah bisa membaca namun tingkat kehadirannya sangat minim sekali. Dalam satu bulan ia hanya berangkat beberapa hari saja. Makanya saya berpesan kepada ibunya. “Mama pu anak naik kelas lima. Tapi, kalau nanti tara rajin berangkat sekolah de turun jadi kelas empat lai,” kataku pada ibu empat anak itu.

Hampir satu bulan yang lalu aku meninggalkan Kampung Sambrawai. Tempatku mendedikasikan diri menjadi seorang guru di ujung timur Indonesia. Beberapa waktu yang lalu ibu angkatku menelepon. “Anak ko su kembali. Sa ingat-ingat ko terus. Aro, semoga ko suatu saat kembali lagi e,” kurang lebih demikian yang disampaikan oleh ibu angkatku. Lalu mataku berkaca-kaca mengingat ibu angkatku yang baik luar biasa. Seorang wanita tangguh yang serbabisa yang tidak pernah membiarkanku kelaparan. Aneka hidangan tersaji di meja makan saat perutku mulai keroncongan.

Mama Rio salah satu warga orang di kampungku juga sempat mengirimkan sms. “Semua orang rindu pa guru sampe. Masyarakat kampung ingat pa guru, karena pa guru terlalu baik sekali,” katanya lewat pesan singkat. Menurutku bukan aku yang terlalu baik, tapi, warga desa yang begitu peduli terhadapku.

Bahkan tadi malam Pak Guru Dem salah satu guru di kampung Yobi yang tengah berada di Manado sempat menelponku menanyakan kabar. Rasa rindunya akan Pulau Jawa kerap disampaikannya padaku baik saat aku masih di Papua maupun saat aku sudah tiba di Lampung. Pak Daniel, Bapak ketua jemaat Pniel Sambrawai juga rajin berkirim kabar kepadaku. “Pak guru sa su ada di Makassar ni,” katanya beberapa hari yang lalu.

Aku jadi teringat saat pengumuman penempatan sebelum diberangkatkan oleh Yayasan Gerakan Indonesia Mengajar ke Papua. Aku menangis dan menolak ditempatkan di ujung timur Indonesia itu. Namun, bagaimanapun juga pengajar muda Indonesia Mengajar harus siap ditempatkan dimana saja. Kini, tangisan itu masih kerap menghampiriku. Bukan tangisan penolakan seperti dulu tapi sebuah tangisan akan kerinduan pada Tanah Papua.

Kerinduan yang membawaku kepada banyak kenangan yang terserak di sepanjang Kampung Sambrawai. Rindu makan papeda dengan kuah kuningnya, rindu dengan tumis daun pepaya dan rindu dengan ikan-ikan segarnya yang hampir setiap hari kumakan. Kebaikan hati warga kampung yang tanpa pamrih akan kuingat selalu. Aroma Papua melekat kuat dalam hatiku hingga aku susah melepaskannya. Hingga kini aku masih tetap menyimpan rindu padamu, Tanah Papua.

__________________________________________________________________

Penulis : Tri Sujarwo

loading...

Check Also

Froggy, Bukan Sekedar Binatang Peliharaan

Froggy, adalah seekor katak dengan ciri-ciri unik. memiliki tanduk dikepalanya, meski terlihat berkulit keras kasar, padahal hewan ini sangat lembut. iya sering disebut katak bertanduk / kodok bertanduk dengan nama lain adalah Megophrys Nasuta / Megophrys montana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *