Home / Tag Archives: cerita pendek

Tag Archives: cerita pendek

Seberkas Cahaya dari Tanah Ambarawa

Angin semilir menelisik pori-poriku. Kapal yang kutumpangi berjalan semakin pelan menuju tepi Kepulauan Wayag, Raja Ampat, Papua Barat. Gugusan pulau-pulau karang seakan menyambut kami. Sepanjang mata memandang dimanjakan dengan perpaduan gradasi hijau toska dan biru muda laut Raja Ampat.

Kealamian yang terjaga menjadikan laut Papua ini sebagai habitat ikan-ikan terumbu karang. Sesekali aneka jenis ikan yang hidup soliter berseliweran di bawah kapal kami yang mulai menepi.

Penanggalan menunjuk angka 2012. Ini bagaikan mimpi. Setahun yang lalu, aku memiliki keinginan besar untuk menyambangi lokasi wisata yang sudah mendunia ini. Dan, di penghujung September 2012, keinginan itu terwujud. Aku terpilih menjadi salah satu peserta Program Pelayaran bertajuk Kapal Pemuda Nusantara “Sail Morotai 2012”. Kapal ini membawa puluhan pemuda-pemudi dari berbagai daerah untuk mengarungi wilayah timur Indonesia, termasuk diriku.

Ketika itu, pelayaran dimulai dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kapal terus melaju mengunjungi Makasar yang penuh pesona. Tak cukup sampai disitu, Kota Ambon Manise hingga Ternate di Maluku Utara juga kami singgahi.

Perjalan berlanjut ke Pulau Morotai, Pulau paling utara yang berbatasan dengan Negara Palau. Kami juga menyambangi Kota Sorong yang terkenal dengan Pantai Tembok Berlinnya. Sampai akhirnya menambat di Kepulauan Wayag, Raja Ampat.

Jiwa petualangaku ternyata masih terus membara. Pada 2013, aku kembali mendaftar dalam program Sail komodo. Kali ini aku mendaftar sebagai pendamping. Syaratnya hanya mengirimkan Curriculum Vitae (CV). Aku berusaha membuat CV yang baik dan menarik sesuai dengan pencapaian yang pernah kuraih. Saat hari pengumuman, aku benar-benar deg-degan. Hati tak tenang, kubaca Alquran. Lumayan menentramkan. Kubuka email, bismillah kuucapkan. Alhamdulillah, aku dinyatakan TIDAK LOLOS. Remuk redam badanku, rasanya sendi-sendi seperti mau lepas. Nafsu makan pun hilang. Ingin kubanting komputer di depanku. Namun, aku berusaha menahan diri.

Sebelum sign out dari emailku, aku membalas email panitia itu seperti ini, “Terima kasih atas informasinya. Aku tidak lolos menjadi pendamping, tapi aku siap menggantikan jika ada pendamping yang mengundurkan diri. Terima kasih”.

Seminggu berlalu tak ada email balasan dari panitia. Harapanku tidak pernah pupus. Keinginan itu terus kumunajatkan. Satu pekan menjelang pelayaran, aku mendapat telepon dari panitia Sail Komodo, Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang mengabari bahwa aku ikut berlayar, menggantikan pendamping dari Riau yang berhalangan hadir.

Perasaanku buncah. Wajahku tersungkur ke bumi. Sujud syukur kupanjatkan. Doaku diijabah Allah. Aku semakin benar-benar yakin dengan kekuatan doa, dan ridho dari kedua orangtua.

Kali ini, pelayaran menuju Bali. Suasana belahan Indonesia ini sungguh berbeda. Pinggir pantai disesaki para wisatawan manca negara. Aku serasa di luar negeri. Perjalanan berlanjut ke Taman Nasional Pulau Komodo yang selama ini hanya kutonton lewat televisi. Labuhan Bajo menjadi tujuan kami berikutnya. Perjalanan kami berakhir di Kupang. Pada kesempatan ini, aku berkesempatan mengeksplor aneka kuliner hingga budaya yang adiluhung. Kami mengunjungi banyak tempat di kota yang banyak ditemui batuan karang itu.

Aktivis Pemuda

Perjalanan dengan Kapal Pemuda Nusantara bukan petualangan pertamaku. Pada 2010, aku terpilih sebagai peserta Jambore Pemuda Indonesia di Kalimantan Barat dan Bakti Pemuda Antar Provinsi di Banten.

Hidup sepekan di Kalimantan membuatku tersadar ternyata kerusakan hutan benar-benar nyata adanya. Sepulang program aku membuat tulisan keharusan masyarakat menjaga hutan. Tulisan kukirim di media massa agar semakin banyak yang membaca.

Sementara itu, hidup satu bulan di Banten bersama masyarakat terpencil di Pedalaman Pandeglang membuatku tersadar bahwa kita harus melakukan sebuah tindakan. Kemiskinan masih terlihat nyata padahal potensi sumber daya begitu melimpah ruah. Mulai dari hasil alam hingga objek wisata yang masih “tersimpan”. Bersama pemuda-pemuda desa setempat kami membuat jalan tembusan yang bisa digunakan untuk berbagai hasil, mengangkut hasil bumi salah satunya.

Perjalanan menelusuri Banten dilanjutkan dengan mengunjungi Perkampungan Badui Dalam di Pegunungan Kanekes. Memasuki perkampungan Badui Dalam serasa serasa hidup ratusan tahun yang lalu. Sungai mengalir dengan derasnya, jika hendak minum tinggal ambil saja tanpa perlu dimasak dan airnya sangat jernih.

Rumah-rumah panggung khas tatar sunda yang berdinding anyaman bambu dan beratapkan rumbia berbaris rapih. Tanpa paku tapi kuatnya luar biasa. Semua bentuk rumahnya sama. Para wanita yang hanya mengenakan kemben dan para pria berbaju tanpa kancing dengan motif polos. Sebuah pengalaman batin yang benar-benar membuatku tersadar jika Indonesia belum “merdeka” sepenuhnya.

Berawal dari Penyiar

Semasa menjadi mahasiswa di Universitas Lampung (Unila), aku nyambi menjadi penyiar di @Radio 101.1 FM. Ini menjadi langkah awalku mengenal dunia jurnalistik. Awal terjun ke dunia radio juga bukan hal yang mudah bagiku. Pada 2008, @Radio 101.1 FM membuka lowongan pekerjaan untuk penyiar. Aku mencoba mendaftar, namun gagal.

Maklum, aku sebagai anak petani transmigran di Desa Ambarawa, Pringsewu, belum memiliki keterampilan yang cukup ketika itu. Namun, aku memiliki bekal rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi yang dinilai supel oleh teman-teman sesama aktivis organisasi mahasiswa. Aku terus berlatih melalui video dan bergaul dengan para penyiar. Harapannya agar kemampuan “berbicaraku” semakin terasah.

Aku tak patah arang, pada 2009 @Radio menggelar acara Moslem Broadcasting Competition (MBC). Ajang pencarian bakat-bakat muda di bidang kepenyiaran. Aku berlatih dengan serius, mulai melihat aneka program radio dari youtube, berlatih vokal hingga teknik pernafasan.

Alhamdulillah, dalam ajang tersebut aku menjadi pemenang pertama dan magang selama tiga bulan. Peluang ini tentu tidak kusia-siakan, ak

u terus berlatih mengenai teknik berbicara di radio hingga profesi ini kujalani cukup lama. Lewat profesiku sebagai penyiar, aku kerap bercuap-cuap meluahkan aspirasiku. Aku kerap memberitakan mengenai kondisi masyarakat pulau di Lampung. Usahaku tak sia-sia, siang malam menemani para pendengar dalam berbagai program siaran berbuah manis.

Pada 2012, aku dinobatkan menjadi juara III KPID Lampung Award kategori penyiar favorit. Pada tahun yang sama, aku juga sempat menjadi pemenang II Indonesia Nasyid Award kategori penyiar radio. Saat itu aku harus bersaing dengan para penyiar radio islam dari Aceh hingga Papua. Semua itu tentunya berkat proses belajar yang terus berkelanjutan. Aku tak pernah berhenti untuk terus menggali potensi diri.

Menjadi penyiar semakin menebalkan kepercayaan diriku. Kebiasaan cuap-cuap memberi peluang job baru sebagai pembawa acara (MC) dalam berbagai acara di kampus-kampus. Walau awalnya hanya dibayar dengan nasi bungkus tapi aku bahagia bisa bermanfaat untuk orang lain.

Kemudian pada tahun 2012, aku mulai membuka jasa MC profesional untuk berbagai event. Mulai dari pernikahan, tabligh akbar, festival, konser, launching produk, jalan sehat hingga acara kantoran, ratusan acara berhasil kupandu. Jerih payahku tak sia-sia, pundi-pundi rupiah hampir mengalir setiap pekannya.

Aku pernah memandu acara bersama artis terkenal seperti Teuku Wisnu hingga menjadi MC M Rhido Ficardo selama tiga bulan saat sosialisasi sebagai calon Gubernur Lampung. Kini, Ridho Ficardo menjadi gubernur termuda di Indonesia.

Kemampuanku berbicara di depan publik aku bagi dengan banyak orang. Aku membuka pelatihan secara gratis. Aku bersyukur bisa berbagai dengan mereka yang haus akan ilmu pengetahuan. Selama ilmu itu bermanfaat dan dimanfaatkan di jalan yang benar, itu sudah cukup bagiku.

Jurnalis Perjalanan

Pada Juni 2015, aku mendaftar sebuah program pelatihan untuk jurnalis yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Aku harus bersaing dengan para jurnalis di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Salah satu persyaratannya harus pernah menulis tentang jaminan kesejahteraan masyarakat terpencil.

Kala itu, aku masih menjadi jurnalis Lampung Post yang mengisi rubrik Minggu, dan liputan yang paling aku senangi adalah edisi perjalanan. Dengan rutinitasku sebagai wartawan minggu, cukup mudah bagiku menjadi objek sebagai bahan tulisan memenuhi persyaratan pelatihan yang digelar AJI Jakarta tersebut.

Aku memutuskan untuk meliput Pulau Harimau atau yang lebih dengan dengan Pulau Rimau yang sebelumnya pernah kusambangi. Pulau ini merupakan pulau terpencil di Kawasan Bakauheni, Lampung Selatan. Sebuah pulau yang membuatku tersadar ternyata banyak yang harus kita lakukan untuk Lampung. Bekerja dengan kemampuan yang kita miliki. Mungkin kecil di mata kita, namun itu sangat berarti buat mereka.

Hidup di pulau sangatlah penuh perjuangan. Hatiku terketuk melihat anak-anak berseragam merah putih menyusuri lautan lepas berkendara perahu mungil hanya untuk bersekolah. Aku pun tak percaya, di tahun 2015, satu dusun di Pulau Rimau hanya memiliki satu televisi.

Menonton televisi hanya saat malam hari, itu pun menonton beramai-ramai. Seperti menonton layar tancap yang tenar di era 90-an. Aku kembali terkaget-kaget, melihat kondisi bangunan sekolah di pulau penghasil jagung ini. Satu ruangan di sekat-sekat dengan bilahan papan, untuk tigas kelas. Hatiku benar-benar berontak.

Tulisanku mengenai Pulau Harimau ini akhirnya mengantarku menuju Medan, Sumatera Utara untuk mengikuti pelatihan AJI. Tak hanya itu, aku juga berkesempatan mengunjungi Pengungsi Rohingya yang terdampar di Kota Langsa dan Aceh Timur.

Menyapa kabut pagi di Nepalnya Indonesia, Takengon, Aceh Tengah. Negeri Di Atas Awan yang banyak dikunjungi wisatawan. Menatap Baiturrahman di Banda Aceh hingga menyusuri Kota Sabang wilayah paling ujung Barat Indonesia. Berbagai pengalaman itu membuatku tergerak untuk melakukan banyak hal.

Menggawangi Lampung Menulis

Melihat berbagai ketimpangan itu, saat balik ke Lampung, aku yang saat itu masih menjadi Ketua di Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung bersama rekan-rekan seperjuangan membuat gerakan Lampung Menulis. Awalnya kami membuka Taman Baca Masyarakat di trotoar jalur dua Unila.

Setiap ahad pagi, kami menggelar buku-buku yang bisa dibaca di tempat maupun dibawa pulang. Bermodalkan kepercayaan para pengunjung tanpa batasan suku, agama dan ras bisa meminjam buku yang disediakan. Selain meminjamkan buku, kami juga menerima sumbangan berbagai jenis buku.

Buku sumbangan masyarakat itu kami sortir dan kemudian kami sebar ke pulau-pulau terpencil di Lampung. Masyarakat sangat antusias banyak diantara mereka yang menyumbangkan buku baru maupun bekas.

Gerakan Lampung Menulis ini juga kami kemas dengan memberikan pelatihan menulis kepada anak-anak di pulau-pulau di sekitar Lampung. Kami pernah berbagi buku dan pelatihan menulis di Pulau Pasaran, Pulau Pisang, Pulau Legundi, Pulau Rimau, Pulau Tegal, Pulau Pahawang. Kami juga menyasar sekolah-sekolah terpencil di berbagai daerah mulai Pesawaran hingga Lampung Selatan.

Tak hanya menyasar pulau-pulau terpencil saja. Aku juga sering melakukan sharing dan mengisi kelas-kelas kepenulisan dengan para mahasiswa yang ada di berbagai kampus di Lampung. Senang bisa, berbagi ilmu dengan mereka. Apalagi saat dapat kabar pasca sharing kepenulisan tulisan mereka banyak yang dimuat di media. Bahagia rasanya.

Seruan Merbabu Memanggilku

Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, lakukanlah amal salih dan janganlah mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi (18) : 110)

Penggembaraanku terus berlanjut. Kitab Rihlah karya Ibnu Batutah menginspirasiku untuk melakukan sebuah perjalanan. Meninggalkan sejenak hinggar bingar kehidupan kota, dan menyesap kesejukan udara di Lereng Merbabu. Aku di sini menjadi salah satu volunteer di Dusun Gumuk, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Sebuah dusun kecil di ujung Gunung Setugel (Masih satu kawasan dengan Gunung Merbabu).

Aku mengajar anak-anak di sini untuk lebih mengenal Tuhan. Pencipta semesta alam. Mengajari mereka cara baca tulis Alquran. Memahamkan mereka bagaimana mengeja setiap firman Tuhan yang terlihat sejauh mata memandang. Perjalanan yang harus kulalui setiap 2 hari dalam sepekan memang cukup terjal. Dusun Gumuk letaknya lumayan terpencil diantara lembah dan jurang-jurang mungil. Namun, berbekal tekad dan keikhlasan aku akan membersamai mereka sampai mereka mengenal siapa pencipta mereka.

Teruslah bermimpi, karena Tuhan akan mewujudkan mimpi-mimpi kita. Selama ada kemauan sesulit apapun itu, Tuhan pasti akan memberikan jalan. Jangan pernah berhenti, sekali berhenti maka kau akan “mati”. Teruslah bergerak agar semakin banyak yang bisa kau perbuat.

(Kiriman dari : Tri Sujarwo )