Home / Tag Archives: SURAT SAHABAT

Tag Archives: SURAT SAHABAT

Diary – Espisode Eps Topik Korea

Orang-orang memperhatikanku dengan keheranan. Terik matahari di langit gedung-gedung bandar lampung kian membakar. Di kejauhan , aku yang sedang berada di teras masjid Attaqwa ini, pastilah terlihat menyedihkan. Termenung dengan pikiran dan pandangan kosong. Beruntung, ditemani tas ransel di samping, aku duduk persis di depan tumpukan sendal-sendal para pejabat & juga pendosa yang sedang berdo’a.

Mansyur, kan? “ suara yang tiba-tiba datang, memecahkan lamunan siang itu. Sejanak, ku hapus keringat deras didahiku dengan tisu. “Iya, ya ampun. Loh, kok lo ada disni? Kapan pulang dari korea? “ ia tak menjawab, ku tau maksudnya. Kemudian ku tarik tangannya, ku rengkuh badannya. Sudah pasti dia juga akan melakukan hal yang sama. Ketika seorang sahabat yang telah lama saling merindukan dan kini bertemu. Iya, Seorang sahabat sejati. Yang terpisah karena cita-cita. Sahabat seperjuangan, sepenanggungan.

kemaren syur, sengaja gak ngasih tau lo biar surpirse, dan ternyata lo terkejut juga..”
masih terlihat sembab di wajahnya karena manahan haru pertemuan ini. Ku mencoba menerawang jauh kedalam jiwa dan pikirannya. Tergambar dan terbayang sebuah kenangan disana. Kenangan masa kuliah, bertahun tahun hidup bersama dalam ruang 3×3 dan atap plafon yang agak rendah. Berjuang dalam keterpurukan dan kerasnya penindasan hidup dan juga usia muda.

ya allah, ini bukan sebuah kejutan lek, tapi lebih dari sekedar kejutan. Ini anugerah “ menatapnya, seperti menatap banyak adegan masa lalu. Bayangannya, kembali merajai pikiranku. Melesat jauh ke masa lampau, hingga saat ini bisa sedekat dan senyata ini melihatnya,thoni. Sungguh kemustahilan yang semustahil mustahilnya. Ia yang akrab di panggil “lek”. Engkau didepanku. Kita bertemu, kita harus melanjutkan masa lalu, masa yang tertunda karena uang!.

syur, inget ini. Gua pergi bukan semata karena uang, dan pulang bukan juga karena sudah cukup. Tapi dimanapun kita berpijak, proses bertahan hidup di zaman ini, semuanya sama saja. Perihal makan & memberi makan, berpakaian dan membantu sesama harus semata-mata karena ingin dekat pada Allah, sekali lagi bukan uang,bukan kekayaan”

******

mataku berat sekali. Ingin kututup diary malam ini dengan sebuah kata ‘wassalam’. Dan kemudian melanjutkan mimpi itu. Iya, mimpi pertemuan di siang itu, di masjid itu. Sekali lagi, tadi hanya mimpi. Ah,sial. Menyakitkan,thon.

Tak banyak yang ku ingat mimpi pertemuan itu. Yang ku tahu sekarang, mimpi malam ini, engkau merubah segalanya, merubah pandanganku. Dan malam ini, akhirnya ku akhiri, ku lipat diaryku, ku selipkan di bawah bantal. Berharap, kelanjutan mimpi tersambung kembali. Tapi,nihil ..

Pagi ini, aku kembali menulis diary sebab tertunda semalam. Ini pagi pertama setelah mimpi itu. Pagi ini, ku membiasakan diri untuk tidak terlalu sering membuka laptop dan mengecek website Hrd korea. Selalu memantau perihal perkembangan tahapanku. Ya, tahapan keberangkatanku. Yang sangat dan teramat lama bisa merasakan tanah dan teriknya matahari korea. Entah kapannya.

Aku terlalu lelah, hari – hariku biasanya hanya diisi dengan harapan-harapan. Ada yang berbeda angin pagi ini. Angin yang penuh dengan semangat memperbaiki diri dan keinginan. Teringat kalimat terakhir dari mimpi itu. Dimanapun berpijak, selama Allah masih menjadi tujuan dan sandaran, semoga Allah memudahkan dan meridhoi.

Thon, pagi ini. Ku persembahkan semangat tanpa angan-angan bertemu denganmu. Bukan berarti aku tidak mengharapkannya. Tapi ku ingin menjadi bernilai dimasa masa penantian ini. Do’akan sahabatmu, segera sukses sebelum Prelim 🙂

aamiin ..

Fenomena Bahasa Daerah “Halus & Kasar”

Pertama, sangat perlu saya sampaikan permintaan maaf di awal tulisan ini. Untuk mengantisipasi adanya dugaan salah paham dan sejenisnya. Saya menulis postingan ini murni sebuah pendapat pribadi. Bahkan saya lebih nyaman tulisan ini disebut sebagai sebuah curahan hati, yang mengharap pencerahan dan pendapat dari para pembaca sekalian.

Kita semua tahu bahwa indonesia dihuni oleh ratusan juta manusia yang tersebar di ribuan pulau. Sudah pasti keragaman etnik budaya ada didalamnya. Terlebih sebuah perbedaan kebiasaan setiap wilayah dan individunya. Termasuk saya, yang terlahir di dataran pulau sumatera , Lampung. Meski dilahirkan di lampung, Saya merupakan anak yang berkesukuan sunda. Orang tua saya merantau dari jawa barat ke lampung ini sejak masa pemerintahan sukarno.

Jujur, meski saya keturunan sunda dan setiap hari saya bertutur bahasa sunda. Saya tidak begitu banyak mengetahui tentang budaya dan segala hal tentang sunda. Maklum,sejak kecil saya dibesarkan dilingkungan yang plural. Bahkan dalam satu kampung, terdapat banyak sekali suku. Dan mayoritas sudah pasti suku pribumi,lampung. Tidak heran saya juga pasih berbahasa lampung. Bahkan lebih mengetahui banyak tentang budaya lampung dibanding sunda. Suatu hal yang wajar saya rasa bagi etnis pendatang.

Seperti saya katakan tadi, saya tidak banyak tau semua hal tentang budaya sunda. Tapi, Yang sudah pasti saya tahu adalah saya bisa berbahasa sunda. Ya, hanya satu gaya bahasa sunda versi saya. Dulu belum pernah tahu bahwa ternyata untuk bahasa sunda sendiri banyak sekali macam gaya bahasanya. Karena banyak macamnya, akhirnya menimbulkan sebuah perbedaan dan pembagian. Termasuk penyebutan “BAHASA HALUS DAN KASAR”.

Saya tidak begitu paham latar belakang kenapa ada pembagian halus – kasar ini. Yang jelas pengalaman pertama kali saya mendapat predikat penutur bahasa sunda kasar adalah saat saya bertemu dengan orang-orang sunda dipulau jawa. Saat itu saya mendapat pekerjaan disana. Saya berbincang-bincang dengan bahasa sunda yang selama ini saya pakai. Ya, Sedikit kaget saat itu dikatakan “kamu kok kasar banget ya ngomongnya,yang sopan itu begini, begini.. dan begini… (sambil diberikan contoh kosakata bahasa sunda yang halus dan sopan,katanya!).
Saya ingat beberapa kalimat bahasa sunda yang saya katakan dan kemudian dia rubah ke versi halus dan sopan :
“ diimah mah paling dahar heer-dahar hees “ menjadi “ ari dibumi palingan teh sare madang-sare madang” (kalau dirumah tidur makan-tidur makan) . dan banyak lagi..

pernah juga saya mengikuti perlombaan ditingkat nasional di tanah jawa. Saat itu adalah waktu untuk memperkenalkan diri kepada juri. Saya di tanya bisa bahasa daerah apa saja. Saya menjawab sejujurnya saya keturunan sunda dan juga bisa bahasa lampung.

Saat diminta untuk memkenalkan diri memakai bahasa sunda. Belum selesai mempresentasikan diri. seketika saya ditertawakan oleh beberapa dewan juri yang nampaknya adalah asli orang sunda. Mereka mengatakan kalau bahasa sunda yang saya gunakan kurang sopan dan kasar. Bahkan kurang pantas jika dipakai berpidato dihalayak umum. Mereka menyuruh saya untuk mempelajari bahasa halus dan sopannya. Ah entahlah. Bukan perkata setuju atau tidak. yang jelas jika begini realitanya, smua orang sunda yang saya kenal dilampung sepertinya tidak pantas untuk bertutur sunda di publik dengan bahasa sunda yang biasa kami gunakan.

Pada kesempatan itu saya sangat ingin menyanggah . Lebih tepatnya membela diri. Ya jelas, saya harus membela diri. tentang penyebutan bahasa kasar dan halus ini. Saya ingin mengatakan bahwa, saya rasa untuk penuturan bahasa kita memilki gaya sendiri sendiri. Sangat tidak bisa dipaksakan kalau orang sunda harus menguasai bahasa sunda dengan semua versi. Karena kita tidak tahu dia dibesarkan dilingkungan apa, bagaimana dan dimana. Dan ketika dia berkumpul dengan komunitas/kelompok penutur yang menganggapnya berbeda. Bukan berarti dia harus mendapat predikat bahwa dia “kasar-tidak sopan”. Padahal apa yang dia pelajari dan pahami dilingkungan tempat tinggalnya lah yang membentuk pribadi dan gayanya sendiri seperti itu. Termasuk dalam hal dialektika dan intonasi bahasanya. Anggap saja sebuah perbedaan. Bukan perbandingan.

Tapi saya tidak bisa mengatakannya saat itu, karena memang timing yang tidak tepat. Dengan durasi yang terbatas, tidaklah efektif menyanggah pernyataan itu. Karena saya yakin, menyanggah berarti membuka dialog baru. Yang harus memakan waktu lama. Suatu saat pasti akan saya katakan didepan umum. Minimal lewat tulisan ini.

Sebenarnya masih banyak penglaman saya tentang ini. Tapi tidak mungkin saya ceritakan smuanya, bahkan sebagian sudah ada yang saya lupa.
Yang jelas Dengan kejadian-kejadian ini. Saya hanya berharap setiap individu bisa saling menghargai dan menghormati. Terlebih bagi siapapun yang sampai saat inni masih sering mengatakan kasar – tidak sopan keorang lain. Karena harus diketahui, tidak smua orang bisa terima dan setuju dikatakan seperti itu. Termasuk dalam hal ini adalh saya. Saya kurang setuju dengan penggunaan istilah “kasar dan tidak sopan”. Justru orang yang mengatakan seperti itu adalah yang tidak mengetahui hakikat menghargai dan toleransi.

Jika ada bahasa daerah yang salah satu gayanya lebih pantas untuk digunakan dan ditinjolkan didepan umum. Maka jangan menjudge kalau gaya bahasa yang berbeda adalah tidak pantas. Bagaimanpun juga, kita sudah mengalami kemajuan budaya. Dan seiring berkembangan budaya maka akan tercipta pula beragam gaya dan kebiasaan baru.

Nah dalam hal perkembangan ini,sudah pasti ada pelaku dan ada korban. Bisa jadi orang-orang semacam saya adalah korban dari kemajuan budaya dan zaman. Yang sudah seharusnya diberikan pemahan dan pengetahuan budaya. Atau jika tidak bisa, minimal diberikan kebebasan untuk menjalankannya dengan benar. Sesuai dengan kaidah “berbeda-beda tetapi tetap satu jua”.

Mengenai efek, jelas sekali saya rasakan akibatnya. Saya kadang enggan menggunakan bahasa daerah sunda untuk menghindari hal – hal judgment semacam ini. No dudging, saya berpesan untuk semua. Karena saya menyadari bahwa ini terdapat di banyak bahasa daerah lainnya juga. Saya katakan dengan tegas bahwa penggunaaan bahasa “tidak sopan dan kasar” sangat tidak pantas untuk penutur yang berbeda dengan aslinya.

Jika memang kami penutur yang seperti itu, gunakanlah kata istilah yang lebih sopan dan pantas kami dengar. Misalnya istilah “formal dan tidak formal” atau lainnya. Secara sepintas, memiliki konotasi yang hampir sama. Tapi memiliki pengertian yang sangat jauh berbeda. Bahkan penggunaan kata yang tepat bisa mempengaruhi kedekatan dan emosional. Marilah kita menjadi penutur bahasa yang pintar dan bijak. Kita lestarikan ragam budaya dan bahasa yang kita miliki masing masing. Kita hindari men-judge yang justru melukai hati sesama kita. Kita satu!

Terakhir saya sekali lagi meminta maaf. Jika postingan dalam tulisan ini berkesan lebih emosional dan egois. Sama sekali tidak seperti itu, saya hanya berusaha untuk menegaskan pendapat dan keluhan saya selama ini.
Mohon pencerahannya – Salam damai, ��

Pulanglah ..

Selamat malam sayang, untukmu yang ku pastikan kau membaca postingan ini dimalam hari.
Lama sekali tak menulis untukmu. Tidak, tenang aku tidak melupakanmu. hanya saja belakangan pikiranku disibukkan oleh hal-hal yang seharusnya tak perlu dipikirkan. Setidaknya tidak sedalam ini. Tapi kau tau, kau sendiri yang mengatakan kalau aku adalah manusia dengan tingkat perasaan tertinggi. Ya,baper.

Masalahku Ini bersifat agak rahasia . Hampir ke tahap memalukan sebenarnya. Jadi jangan tanya kenapa aku memendamnya. Karena sudah pasti, aku tak ingin kau pun merasakannya. I will be fine. “jalani dan terus nikmati, bukan diratapi tapi dipelajari” begitu katamu ketika aku terus-terusan mengeluh tanpa kamu tau masalahnya.
Yang jelas, Semua langkah yang kuambil adalah untuk menyenangkan orang lain. Aku tak suka menjadi tidak disukai. Karena aku tau rasanya tidak punya pilihan-tidak punya bantuan. Aku pahlawan, aku penolong . Baik sekali ya? Bodoh lebih tepatnya.Baiklah, lupakan maslah tak pentin itu.

Dan kebenarannya adalah : aku telah menunggumu dengan segenap rindu yang menggebu. Merindukan sosok yang bisa menopang semua kerapuhan diri disampingku. Yang cukup dengan memandang matanya, ku dapati ketenangan. Kamu, datanglah..
taukah kamu, ketiadaanmu selama ini. Banyak yang terjadi. Aku harus mengambil banyak keputusan terpenting dalam hidupku.sendirian. Aku ketakutan. Aku takut suatu hari nanti akan menyesalinya. Sering Setiap malam tubuhku gemetar. Badanku juga panas dingin, padahal aku tak sakit sama sekali. Aneh. Sejak hari itu aku sering berteriak dibalik bantal. sengaja memutar video lucu pengalih perhatian. Sekali lagi aneh
saya hebat. Saya kuat. Saya bisa. Saya harus selalu tersenyum. Saya pintar. Saya bijak.
Hahahha… sering ku katakan kalimat positif itu pada diriku dalam cermin. Ternyata ,GAGAL!. Tak begitu banyak membantu. Tubuhku masih saja tak semangat,serasa ada yang kurang dan hilang. Bahkan sesuatu yang berdenyut sakit mulai merasuki otak dikepalaku. Sering terjadi begitu.

ah.. ternyata ! aku rasa aku lebih butuh kamu. Ya, kamu. Berjanjilah untuk tidak berlama lama meninggalkanku.
Ingatlah selalu janji itu, didermaga itu,sunset itu dan selembar kain itu (itu janji yang mengerikan).

Surat Kecil Untuk “Sahabat”

DSC_4305.jpg
(foto : Koleksi Pribadi , saat acara wisuda S1 UIN Raden Intan Lampung)

lek. apakabarmu disana sahabat ? aku disni baik baik saja. ku harap kau juga baik-baik saja. bagaimana perawakanmu sekarang? wah. pasti sudah makin riang. terakhir melihatmu, kau masih sembab gambaran kesedihan dan seperti ketakutan akan kesepian.
sahabat, ini surat untukmu yang kesekian. dan untuk yang kesekian kalinya juga ada banyak hal yang ingin kukatakan. Hal yang sebetulnya sama sekali tidak ingin kukatakan, khawatir akan membuatmu sedih dan menjadi pikiran . Jujur Aku masih bimbang, ingin ku katakan atau tidak.  Dan akhirnya kumemilih untuk tidak mengatakannya, tetapi menuliskannya. dalam surat-dalam sajak.

lek, kau jauh. jauh sekali. Meskipun tinggal sebuah lintas di bilik tirai imaji dan jarak.bagiku Kau masih dsini. semuanya. kenanganmu. jejak mu.  meski sekarang hanya ingatan yang melemahkan ketika rindu berbondong-bondong mendobrak labuan. sebongkah rindu masa lalu selalu hadir dipelupuk tatap. Memaksaku mengolah otak untuk kembali memikirkan kebiasaan-kebiasan yang pernah dilakukan,yang sekarang hanya sebagai bingkai dari kenangan yang mulai lapuk. dan entah akan terulang kembali atau tidak. meski kau nanti akan kembali. aku masih khawatir, apakah kita bisa mengukir masa lalu yang sedemikian rumit,pelik dan indahnya.  Kini hanya menjadi senyawa dari berai kejernihan air mata.
ditulisan ini, ku sengaja mengulas kenangan. mencoba menghadirkan secara nyata di hadapan. krna itu bisa membuatku bertahan dalam menjadikanmu sebagai sahabat yang tak tergantikan.

melalui ingatan, ku pandangi galeri beberapa tahun yang lalu. Saat pertama kali kita bersahabat.  seperti hal yang tak mungkin,kan?. dua manusia ,dua mahasiswa, berbeda pegangan ideologi dan pandangan. aku lelaki yang memegang prinsip realistis, stylish dan modernis. engkau? untuk masalah ini cukup kau sendiri yang menjawabnya. setuju? haha. baiklah, ku bantu menjawab. kau berusaha menjadi sosok yang ingin terlihat agamis, humanis, dan apa adanya. dan memang itulah dirimu.
bukan karena saling menghargai perbedaan yang membuat kita bersahabat. hanya ada dua, pertama – karena kebersamaan. kedua, mungkin krna dirimu terpaksa.

banyak sekali pengungkapan yang tak sempat tersampaikan sebelum engkau pergi jauh. pergi meraih cita-citamu. kepergian yang akan mengawali banyak perubahan. perubahan yang entah untuk siapa dan apa. untuk perjuanganmu, satu kalimat yang ingin ku berikan, perjalananmu yang ikhlas akan menjadikan Pesahabatan kita  melipat ganda kebaikan banyak orang, aku tak ingin kalah darimu!!.

dulu, kita selalu ingin pergi kemana pun bersama . Kita melangkah beriringan, menebar gelak tawa, bergandeng  hingga membuat orang lain iri akan persahabatan kita. Jujur, aku bahagia dan bangga denganmu yang  menganggap bahwa diriku adalah sahabat terbaikmu. Namun sahabat, tidakkah kau berangan bagaimana apabila suatu saat aku tiada? Ragaku tinggal ingatan bagimu, genggamanku tak mampu lagi berada disimu yang mungkin  lengah dan hampir terpeleset saat berjalan, langkahku lenyap dari sisimu.
Aku khawatir, sungguh-sungguh khawatir jika itu benar terjadi, meski saat ini kau terbiasa dengan kesendirian dan kesepian. atau justru sudah tak membutuhkanku lagi.  aku tetap tak ingin membiarkanmu sepi ,karena itu sangat menyakitkan. Namun aku lebih tidak ingin kau menjadi orang yang kehilangan.
untuk itulah, kenapa ku sangat ingin membuang jauh kekhawatiran. ku katakan pdamu, kita sahabat mati sampai syurga. membuatku tenang.
semoga kau juga.

ohya, ku sempatkan disela surat ini, membuat bait sajak sederhana. nikmatilah :

JARAK YANG ABSTRAK

sejenak merenggang perlahan,dalam kesementaraan
Mengoyak sebuah jarak kenistaan dan keniscayaan
Musikmu mulai berubah- kawan.
Temen baru yang kau temukan,baikkah?
tidak denganku. tidak sepertimu.
sekarang- Seakan kita tidak pernah berteman,ya?
kau begitu jauh- Kita terpisah secara tiba-tiba.
kejamnya waktu. kita berdua tidak ada yang bersalah,kan?
Semuanya tidak Berubah,kan?
tak harus – tak akan berakhir,kan?
jarakmu,bukan jarakku.

Aku disini, diindonesia ini. berdiri sendiri saja. sahabat yang lain, bukan karena tak berarti. bukan pula karena kurangnya kenangan. itulah kenapa kau tak terganti dan berbeda. bersahabat denganmu, sampai saat ini tidak ku temukan alasan. ku Menguatkan ingatan kembali untuk tetap menjaga  titian kisah kita yang mulai terlihat samar . menyederhanakan hati,mencoba memulihkan diri dari peran sandiwara dibalik kepura-puraan senyumku. setelah sadar, bahwa kau telah melaju kian berpendar. jauh berpendar , dan hampir memudar. pertanyaanmu ”apa kabarmu yang sebenarnya, sahabat?” namun tetap kau simpan dan selalu kau simpan.  betapa  setibamu begitu kuhitung dalam kerinduan utama. Siapa sanggup melangkah sendiri tanpa kawan seperjuangan.  Sambil memapak janji dan pergumulan hatimu padaku yang berujar untuk tetap selalu bersama berjuang dalam satu ruang-satu waktu. sedemikian hingga aku gagal, kau menguatkan selalu. tapi aku tetap selalu bersedih,hingga sampai detik ini.
lagi-lagi aku sembunyi di balik atas nama persahabat tempo lalu , Berjajar seraut wajah-wajah waktumasa mahasiswa silam – masih kekanakan sekali, berdebat menjunjung nilai ,bukan persahabatan. ternyata waktu ada batasnya. Ketika kita terus saling berdampingan,hingga berjarak sedemikian jauh dan abstraknya.” apapun yang terjadi kedepan ,sepanjang itu untuk meniti banyak tujuan dan impian. kita akan tetap bersahabat ” itu janji kita. semoga mengingatkan.

Peran penting dirimu sebagai sahabat sejati, tak bisa dilambangkan oleh penghargaan kata-kata.
anggap saja tulisan ini sebagai bagian latihanku menulis, kau tau kan? bahkan kau mengatakannya. aku penulis. jadi jangan terlalu di masukkan dalam perasaan.
aku hanya suka menulis. tapi aku adalah penulis yang menuliskan sejarah-sejarah terpenting yang ku anggap berbeda dan penting.

aku sudah mengantuk, segera ingin tertidur. bermimpi dan terbangun kembali. dan memulai hari yang baru..
selamat berjuang.