Home / Tag Archives: UNIVERSITAS LAMPUNG

Tag Archives: UNIVERSITAS LAMPUNG

7 Manfaat Minum Air Hangat

Terkadang, bagi yang sedang jatuh cinta, Akal sehat tidaklah penting.
Tetapi, bagi jomblo expert, Tubuh sehat adalah segalanya.

Memilih jenis minuman memang tergantung selera masing-masing. Tapi tahukah kamu, bagi yang memiliki kebiasaan meminum air hangat di pagi hari, ternyata menyimpan banyak sekali manfaat bagi tubuh,lho. Seperti dilansir dari laman lifehack.org, berikut ini adalah manfaat meminum air hangat di pagi hari bagi tubuh :

1. Menurunkan Berat Badan

Bagi anda yang saat ini sedang menjalankan program diet, membiasakan diri meminum air hangat di pagi hari adalah solusinya. Ternyata meminum air hangat saat pagi hari mampu menurunkan berat badan. Air hangat dapat meningkatkan suhu tubuh dan meningkatkan tingkat metabolisme . Peningkatan aktivitas metabolik memberi tubuh kemampuan untuk membakar lebih banyak kalori sepanjang hari.

2. Mengurangi Rasa Sakit

Salah satu manfaat air hangat adalah meningkatkan sirkulasi kapiler dan merilekskan otot-otot di tubuh. Jadi bagi anda yang sering kaku saat bangun tidur karena kelelahan, meminum air hangat sangat membantu tubuh untuk lebih rileks dan meregangkan otot-otot. Selain itu, bagi wanita yang mengalami kram menstruasi. Solusi meminum air hangat sangat dianjurkan, karena bisa melemaskan otot-otot bagian perut dan meringankan nyeri.

3. Mencegah Penuaan Dini

Ternyata Sehingga kulit akan tampak selalu bersinar, dan elastisitas kulit tetap terjaga.
Salah satu akibat terdapat racun dalam tubuh adalah membuat penuaan lebih cepat. Ketika tubuh kita menumpuk racun, ia menjadi rentan terhadap penyakit dan penuaan. Selain meminum air hangat pada pagi hari dapat membuang berbagai toksin dalam kulit. Air hangat juga bisa membantu memperbaiki kondisi sel yang bisa menyebabkan peningkatan elastisitas kulit .

4. Tidur Lebih Nyenyak

Tidak hanya di pagi hari, ternyata meminum air hangat sesudah makan dan sebelum tidur , bisa membantu saraf tubuh lebih tenang. Sehingga tidur bisa lebih nyenyak dan akan bugar saat bangun.

5. Memperbaiki Pencernaan

Membiasakan diri meminum segelas air hangat di pagi hari, ternyata dapat merangsang sistem pencernaan dan membantu tubuh untuk lebih cepat mencerna makanan.

6. Melancarkan Sirkulasi Darah

Selain membantu melonggarkan otot-otot, ternyata meminum air hangat juga bisa membantu peredaran darah menjadi lebih lancar.

7. Mengurangi Sembelit

Bagi anda yang mengalami susah buang air besar. Cara mencegahnya adalah meningkatkan konsumsi air hangat. Karena air hangat bisa membantu memperbaiki gerakan usus Anda, sehingga pencernaah bisa lebih lancar.

( Di terbitkan juga di www.lampungkita.id )

Agus Guntoro , Pegiat Lingkungan, Desa dan Radio Komunitas

Tak banyak orang yang mau menggeluti kegiatan sosial kemasyarakatan karena alasan kesibukan kerja. Tetapi, Agus Guntoro malah memilih aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan. Tak tanggung-tanggung, ayah dari Febri Nur Guntoro dan Afan Nouval Algifari ini aktif dalam kegiatan pelestarian lingkungan, pemberdayaan desa dan mengelola radio komunitas.

Agus Guntoro pernah merasakan kerasnya hidup diperantauan dengan bekerja sebagai buruh di pabrik sepatu dan pabrik baja. Pria yang pernah menjabat Sekretaris Desa Hanura ini juga pernah menjadi pegiat organisasi buruh semasa bekerja di pabrik.

Di Kecamatan Teluk Pandan, Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Way Ratai, Pesawaran, Agus Guntoro di kenal sebagai pegiat pelestarian lingkungan. Di 3 Kecamatan tersebut, Agus Guntoro dikenal sebagai pegiat yang getol mendorong petani di pinggir kawasan Taman Hutan Raya Wan Abdur Rahman (Tahura WAR) untuk berorganisasi, menghijaukan hutan dan mencegah petani menebang kayu di hutan. Agus Guntoro juga dikenal sebagai orang yang getol mendorong sistem pengelolaan hutan dengan konsep Sistem Hutan Kerakyatan (SHK).

Agus Guntoro yang juga aktif dalam Gerakan Desa Membangun (GDM), giat melakukan diskusi dan peningkatan kapasitas perangkat desa di Kecamatan Teluk Pandan, Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Way Ratai, Pesawaran. Atas dedikasi dan kerjanya, Desa Hanura menjadi desa pertama di Lampung yang memiliki website desa. Kini dan ikut membawa Desa Hanura menjadi juara nasional Lomba Desa tahun 2016. Agus juga mendedikasikan dirinya untuk mendirikan komunitas dedemIT (Desa-Desa Melek Informasi dan Teknologi) Lampung yang bersinergi dengan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (RTIK).

Dalam bidang media, Sekretaris Umum Jaringan Radio Komunitas Lampung (JRKL) ini adalah pendiri radio komunitas dengan nama Radio Gema Lestari (RGL) FM. Agus Guntoro aktif bersiaran di RGL FM dengan nama udara Den Bagus.

Karena aktivitasnya di bidang media komunitas dan website desa, Agus Guntoro diundang menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung pada tahun 2015 lalu. Sejak tahun 2013, Agus Guntoro aktif melakukan kegiatan jurnalisme warga di website Desa Hanura dan RGL FM.

Agus Guntoro yang juga Ketua SHK Lestari ini kerap mendapat protes dari istri dan anaknya karena kegiatan sosial kemasyarakatan. Namun, Agus Guntoro berhasil meyakinkan istri dan anaknya bahwa keluarga adalah nomor 1 untuknya. Walaupun aktif di kegiatan sosial kemasyarakatan, Agus Guntoro selalu mencukupi kebutuhan keluarganya dan menyempatkan diri untuk berbagi waktu untuk keluarganya.

Dengan moto hidup “Rubahlah Keinginan dengan Perbuatan”, Agus Guntoro tak pernah berharap pamrih atas segala kegiatan sosial kemasyaratan yang dilakukannya. Baginya, di saat orang lain merasa terbantu karena aktivitasnya, di saat itulah kebahagian hidup Ia raih.
( lampungkita ) 

Seberkas Cahaya dari Tanah Ambarawa

Angin semilir menelisik pori-poriku. Kapal yang kutumpangi berjalan semakin pelan menuju tepi Kepulauan Wayag, Raja Ampat, Papua Barat. Gugusan pulau-pulau karang seakan menyambut kami. Sepanjang mata memandang dimanjakan dengan perpaduan gradasi hijau toska dan biru muda laut Raja Ampat.

Kealamian yang terjaga menjadikan laut Papua ini sebagai habitat ikan-ikan terumbu karang. Sesekali aneka jenis ikan yang hidup soliter berseliweran di bawah kapal kami yang mulai menepi.

Penanggalan menunjuk angka 2012. Ini bagaikan mimpi. Setahun yang lalu, aku memiliki keinginan besar untuk menyambangi lokasi wisata yang sudah mendunia ini. Dan, di penghujung September 2012, keinginan itu terwujud. Aku terpilih menjadi salah satu peserta Program Pelayaran bertajuk Kapal Pemuda Nusantara “Sail Morotai 2012”. Kapal ini membawa puluhan pemuda-pemudi dari berbagai daerah untuk mengarungi wilayah timur Indonesia, termasuk diriku.

Ketika itu, pelayaran dimulai dari Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Kapal terus melaju mengunjungi Makasar yang penuh pesona. Tak cukup sampai disitu, Kota Ambon Manise hingga Ternate di Maluku Utara juga kami singgahi.

Perjalan berlanjut ke Pulau Morotai, Pulau paling utara yang berbatasan dengan Negara Palau. Kami juga menyambangi Kota Sorong yang terkenal dengan Pantai Tembok Berlinnya. Sampai akhirnya menambat di Kepulauan Wayag, Raja Ampat.

Jiwa petualangaku ternyata masih terus membara. Pada 2013, aku kembali mendaftar dalam program Sail komodo. Kali ini aku mendaftar sebagai pendamping. Syaratnya hanya mengirimkan Curriculum Vitae (CV). Aku berusaha membuat CV yang baik dan menarik sesuai dengan pencapaian yang pernah kuraih. Saat hari pengumuman, aku benar-benar deg-degan. Hati tak tenang, kubaca Alquran. Lumayan menentramkan. Kubuka email, bismillah kuucapkan. Alhamdulillah, aku dinyatakan TIDAK LOLOS. Remuk redam badanku, rasanya sendi-sendi seperti mau lepas. Nafsu makan pun hilang. Ingin kubanting komputer di depanku. Namun, aku berusaha menahan diri.

Sebelum sign out dari emailku, aku membalas email panitia itu seperti ini, “Terima kasih atas informasinya. Aku tidak lolos menjadi pendamping, tapi aku siap menggantikan jika ada pendamping yang mengundurkan diri. Terima kasih”.

Seminggu berlalu tak ada email balasan dari panitia. Harapanku tidak pernah pupus. Keinginan itu terus kumunajatkan. Satu pekan menjelang pelayaran, aku mendapat telepon dari panitia Sail Komodo, Kementrian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia yang mengabari bahwa aku ikut berlayar, menggantikan pendamping dari Riau yang berhalangan hadir.

Perasaanku buncah. Wajahku tersungkur ke bumi. Sujud syukur kupanjatkan. Doaku diijabah Allah. Aku semakin benar-benar yakin dengan kekuatan doa, dan ridho dari kedua orangtua.

Kali ini, pelayaran menuju Bali. Suasana belahan Indonesia ini sungguh berbeda. Pinggir pantai disesaki para wisatawan manca negara. Aku serasa di luar negeri. Perjalanan berlanjut ke Taman Nasional Pulau Komodo yang selama ini hanya kutonton lewat televisi. Labuhan Bajo menjadi tujuan kami berikutnya. Perjalanan kami berakhir di Kupang. Pada kesempatan ini, aku berkesempatan mengeksplor aneka kuliner hingga budaya yang adiluhung. Kami mengunjungi banyak tempat di kota yang banyak ditemui batuan karang itu.

Aktivis Pemuda

Perjalanan dengan Kapal Pemuda Nusantara bukan petualangan pertamaku. Pada 2010, aku terpilih sebagai peserta Jambore Pemuda Indonesia di Kalimantan Barat dan Bakti Pemuda Antar Provinsi di Banten.

Hidup sepekan di Kalimantan membuatku tersadar ternyata kerusakan hutan benar-benar nyata adanya. Sepulang program aku membuat tulisan keharusan masyarakat menjaga hutan. Tulisan kukirim di media massa agar semakin banyak yang membaca.

Sementara itu, hidup satu bulan di Banten bersama masyarakat terpencil di Pedalaman Pandeglang membuatku tersadar bahwa kita harus melakukan sebuah tindakan. Kemiskinan masih terlihat nyata padahal potensi sumber daya begitu melimpah ruah. Mulai dari hasil alam hingga objek wisata yang masih “tersimpan”. Bersama pemuda-pemuda desa setempat kami membuat jalan tembusan yang bisa digunakan untuk berbagai hasil, mengangkut hasil bumi salah satunya.

Perjalanan menelusuri Banten dilanjutkan dengan mengunjungi Perkampungan Badui Dalam di Pegunungan Kanekes. Memasuki perkampungan Badui Dalam serasa serasa hidup ratusan tahun yang lalu. Sungai mengalir dengan derasnya, jika hendak minum tinggal ambil saja tanpa perlu dimasak dan airnya sangat jernih.

Rumah-rumah panggung khas tatar sunda yang berdinding anyaman bambu dan beratapkan rumbia berbaris rapih. Tanpa paku tapi kuatnya luar biasa. Semua bentuk rumahnya sama. Para wanita yang hanya mengenakan kemben dan para pria berbaju tanpa kancing dengan motif polos. Sebuah pengalaman batin yang benar-benar membuatku tersadar jika Indonesia belum “merdeka” sepenuhnya.

Berawal dari Penyiar

Semasa menjadi mahasiswa di Universitas Lampung (Unila), aku nyambi menjadi penyiar di @Radio 101.1 FM. Ini menjadi langkah awalku mengenal dunia jurnalistik. Awal terjun ke dunia radio juga bukan hal yang mudah bagiku. Pada 2008, @Radio 101.1 FM membuka lowongan pekerjaan untuk penyiar. Aku mencoba mendaftar, namun gagal.

Maklum, aku sebagai anak petani transmigran di Desa Ambarawa, Pringsewu, belum memiliki keterampilan yang cukup ketika itu. Namun, aku memiliki bekal rasa percaya diri dan kemampuan berkomunikasi yang dinilai supel oleh teman-teman sesama aktivis organisasi mahasiswa. Aku terus berlatih melalui video dan bergaul dengan para penyiar. Harapannya agar kemampuan “berbicaraku” semakin terasah.

Aku tak patah arang, pada 2009 @Radio menggelar acara Moslem Broadcasting Competition (MBC). Ajang pencarian bakat-bakat muda di bidang kepenyiaran. Aku berlatih dengan serius, mulai melihat aneka program radio dari youtube, berlatih vokal hingga teknik pernafasan.

Alhamdulillah, dalam ajang tersebut aku menjadi pemenang pertama dan magang selama tiga bulan. Peluang ini tentu tidak kusia-siakan, ak

u terus berlatih mengenai teknik berbicara di radio hingga profesi ini kujalani cukup lama. Lewat profesiku sebagai penyiar, aku kerap bercuap-cuap meluahkan aspirasiku. Aku kerap memberitakan mengenai kondisi masyarakat pulau di Lampung. Usahaku tak sia-sia, siang malam menemani para pendengar dalam berbagai program siaran berbuah manis.

Pada 2012, aku dinobatkan menjadi juara III KPID Lampung Award kategori penyiar favorit. Pada tahun yang sama, aku juga sempat menjadi pemenang II Indonesia Nasyid Award kategori penyiar radio. Saat itu aku harus bersaing dengan para penyiar radio islam dari Aceh hingga Papua. Semua itu tentunya berkat proses belajar yang terus berkelanjutan. Aku tak pernah berhenti untuk terus menggali potensi diri.

Menjadi penyiar semakin menebalkan kepercayaan diriku. Kebiasaan cuap-cuap memberi peluang job baru sebagai pembawa acara (MC) dalam berbagai acara di kampus-kampus. Walau awalnya hanya dibayar dengan nasi bungkus tapi aku bahagia bisa bermanfaat untuk orang lain.

Kemudian pada tahun 2012, aku mulai membuka jasa MC profesional untuk berbagai event. Mulai dari pernikahan, tabligh akbar, festival, konser, launching produk, jalan sehat hingga acara kantoran, ratusan acara berhasil kupandu. Jerih payahku tak sia-sia, pundi-pundi rupiah hampir mengalir setiap pekannya.

Aku pernah memandu acara bersama artis terkenal seperti Teuku Wisnu hingga menjadi MC M Rhido Ficardo selama tiga bulan saat sosialisasi sebagai calon Gubernur Lampung. Kini, Ridho Ficardo menjadi gubernur termuda di Indonesia.

Kemampuanku berbicara di depan publik aku bagi dengan banyak orang. Aku membuka pelatihan secara gratis. Aku bersyukur bisa berbagai dengan mereka yang haus akan ilmu pengetahuan. Selama ilmu itu bermanfaat dan dimanfaatkan di jalan yang benar, itu sudah cukup bagiku.

Jurnalis Perjalanan

Pada Juni 2015, aku mendaftar sebuah program pelatihan untuk jurnalis yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Aku harus bersaing dengan para jurnalis di kawasan Sumatera dan Kalimantan. Salah satu persyaratannya harus pernah menulis tentang jaminan kesejahteraan masyarakat terpencil.

Kala itu, aku masih menjadi jurnalis Lampung Post yang mengisi rubrik Minggu, dan liputan yang paling aku senangi adalah edisi perjalanan. Dengan rutinitasku sebagai wartawan minggu, cukup mudah bagiku menjadi objek sebagai bahan tulisan memenuhi persyaratan pelatihan yang digelar AJI Jakarta tersebut.

Aku memutuskan untuk meliput Pulau Harimau atau yang lebih dengan dengan Pulau Rimau yang sebelumnya pernah kusambangi. Pulau ini merupakan pulau terpencil di Kawasan Bakauheni, Lampung Selatan. Sebuah pulau yang membuatku tersadar ternyata banyak yang harus kita lakukan untuk Lampung. Bekerja dengan kemampuan yang kita miliki. Mungkin kecil di mata kita, namun itu sangat berarti buat mereka.

Hidup di pulau sangatlah penuh perjuangan. Hatiku terketuk melihat anak-anak berseragam merah putih menyusuri lautan lepas berkendara perahu mungil hanya untuk bersekolah. Aku pun tak percaya, di tahun 2015, satu dusun di Pulau Rimau hanya memiliki satu televisi.

Menonton televisi hanya saat malam hari, itu pun menonton beramai-ramai. Seperti menonton layar tancap yang tenar di era 90-an. Aku kembali terkaget-kaget, melihat kondisi bangunan sekolah di pulau penghasil jagung ini. Satu ruangan di sekat-sekat dengan bilahan papan, untuk tigas kelas. Hatiku benar-benar berontak.

Tulisanku mengenai Pulau Harimau ini akhirnya mengantarku menuju Medan, Sumatera Utara untuk mengikuti pelatihan AJI. Tak hanya itu, aku juga berkesempatan mengunjungi Pengungsi Rohingya yang terdampar di Kota Langsa dan Aceh Timur.

Menyapa kabut pagi di Nepalnya Indonesia, Takengon, Aceh Tengah. Negeri Di Atas Awan yang banyak dikunjungi wisatawan. Menatap Baiturrahman di Banda Aceh hingga menyusuri Kota Sabang wilayah paling ujung Barat Indonesia. Berbagai pengalaman itu membuatku tergerak untuk melakukan banyak hal.

Menggawangi Lampung Menulis

Melihat berbagai ketimpangan itu, saat balik ke Lampung, aku yang saat itu masih menjadi Ketua di Forum Lingkar Pena (FLP) Lampung bersama rekan-rekan seperjuangan membuat gerakan Lampung Menulis. Awalnya kami membuka Taman Baca Masyarakat di trotoar jalur dua Unila.

Setiap ahad pagi, kami menggelar buku-buku yang bisa dibaca di tempat maupun dibawa pulang. Bermodalkan kepercayaan para pengunjung tanpa batasan suku, agama dan ras bisa meminjam buku yang disediakan. Selain meminjamkan buku, kami juga menerima sumbangan berbagai jenis buku.

Buku sumbangan masyarakat itu kami sortir dan kemudian kami sebar ke pulau-pulau terpencil di Lampung. Masyarakat sangat antusias banyak diantara mereka yang menyumbangkan buku baru maupun bekas.

Gerakan Lampung Menulis ini juga kami kemas dengan memberikan pelatihan menulis kepada anak-anak di pulau-pulau di sekitar Lampung. Kami pernah berbagi buku dan pelatihan menulis di Pulau Pasaran, Pulau Pisang, Pulau Legundi, Pulau Rimau, Pulau Tegal, Pulau Pahawang. Kami juga menyasar sekolah-sekolah terpencil di berbagai daerah mulai Pesawaran hingga Lampung Selatan.

Tak hanya menyasar pulau-pulau terpencil saja. Aku juga sering melakukan sharing dan mengisi kelas-kelas kepenulisan dengan para mahasiswa yang ada di berbagai kampus di Lampung. Senang bisa, berbagi ilmu dengan mereka. Apalagi saat dapat kabar pasca sharing kepenulisan tulisan mereka banyak yang dimuat di media. Bahagia rasanya.

Seruan Merbabu Memanggilku

Maka barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, lakukanlah amal salih dan janganlah mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi (18) : 110)

Penggembaraanku terus berlanjut. Kitab Rihlah karya Ibnu Batutah menginspirasiku untuk melakukan sebuah perjalanan. Meninggalkan sejenak hinggar bingar kehidupan kota, dan menyesap kesejukan udara di Lereng Merbabu. Aku di sini menjadi salah satu volunteer di Dusun Gumuk, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Sebuah dusun kecil di ujung Gunung Setugel (Masih satu kawasan dengan Gunung Merbabu).

Aku mengajar anak-anak di sini untuk lebih mengenal Tuhan. Pencipta semesta alam. Mengajari mereka cara baca tulis Alquran. Memahamkan mereka bagaimana mengeja setiap firman Tuhan yang terlihat sejauh mata memandang. Perjalanan yang harus kulalui setiap 2 hari dalam sepekan memang cukup terjal. Dusun Gumuk letaknya lumayan terpencil diantara lembah dan jurang-jurang mungil. Namun, berbekal tekad dan keikhlasan aku akan membersamai mereka sampai mereka mengenal siapa pencipta mereka.

Teruslah bermimpi, karena Tuhan akan mewujudkan mimpi-mimpi kita. Selama ada kemauan sesulit apapun itu, Tuhan pasti akan memberikan jalan. Jangan pernah berhenti, sekali berhenti maka kau akan “mati”. Teruslah bergerak agar semakin banyak yang bisa kau perbuat.

(Kiriman dari : Tri Sujarwo )

UNILA Masuk Daftar 20 Universitas Terbaik Indonesia 2017

Daftar 20 Universitas Terbaik Indonesia 2017

Sekitar 1 minggu yang lalu, tepatnya 29 Juli 2017, Lembaga 4ICU yang merupakan organisasi lembaga pemeringkat Perguruan Tinggi di Dunia merilis 20 Perguruan Tinggi Terbaik Indonesia.

Peringkat Teratas di raih oleh UGM (Universitas Gajah Mada) dan di posisi kedua di tempat oleh Universitas Indonesia.

Bagi anda warga lampung, patut berbangga karena Universitas Lampung masuk ke jajaran kampus terbaik indonesia. Di posisi keberapakah Universitas Lampung ?
Berikut 20 Infografis perguruan tinggi terbaik di Indonesia :

Sekedar informasi. Ada banyak lembaga khusus pemeringkat Perguruan Tinggi di dunia dengan metodologi masing – masing.

Selain 4ICU ada QS World University Ranking, yang pada 2016/2017 mendudukkan Universitas Indonesia sebagai peringkat pertama, diposisi kedua Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada di posisi ke tiga.

Sedangkan lembaga 4ICU yang saat ini berubah menjadi uniRank, yaitu sebuah direktori pendidikan tinggi internasional yang meninjau perguruan tinggi dan kolese terakreditasi di dunia.

Peringkat universitas versi UniRank saat ini didasarkan pada algoritma termasuk 5 metrik web , yakni Moz Domain Authority, Alexa Global Rank, SimilarWeb Global Rank, Majestic Referring Domain, Majestic Trust Flow.

Dalam situsnya (4icu.org), tujuan dari pemeringkatan itu adalah untuk memberikan perkiraan peringkat popularitas perguruan tinggi dan kolese dunia berdasarkan tujuan. Dari pemeringkatan itu adalah untuk memberikan perkiraan peringkat popularitas perguruan tinggi dan kolese dunia berdasarkan popularitas situs web mereka yang dinilai dari popularitas lalu lintas.

Tabik ..