Home / SASTRA / The Power Of “YATIM” | Part 1

The Power Of “YATIM” | Part 1

loading...

Yatim. ya, anak yang tidak punya bapak karena ditinggal meninggal dunia. saya adalah anak yatim sejak dari kelas 2 SD. persis waktu itu masih beurmur 7 tahun.

Sedih ? sangat sedih. siapa tak sedih kehilangan seseorang yang sangat di cintai. apalagi seseorang itu adalah yang sangat berarti. sang tulang punggung yang amat bertanggung jawab bagi keluarga. tapi apa dikata, beliau harus terpaksa mewariskan seluruh tanggung jawabnya ke ibu dan anak-anaknya. bukan warisan tanah, rumah, atau harta benda lainnya. tapi warisan sebuah status bagi kami, YATIM.

Bagi saya, status yatim adalah sebuah status yang memutus kontribusi ayah dalam menanggung semua beban keluarga . termasuk tanggung jawabnya dalam mewujudkan keinginan anak-anaknya dalam mengemban pendidikan , juga kesuksesan. hari-hari baru dalam menyandang status yatim sangat berat untuk di jalani. keputusasaan dan kepesimisan adalah hal yang sangat melekat dihari hari ku.  bagaimana tidak, kami masih sangat teramat kecil untuk menanggung amanah ini, ibu sudah teramat tua dan lemah . sangat berharap ada sebongkah harta sepeninggal bapak yang bisa kami gunakan untuk situasi sulit ini. lagi lagi, status yatim adalah warisan paling menyedihkan yang saya terima. ya, status menyedihkan.

(back to the title)

Sekali lagi, mulanya saya mengganggap YATIM adalah sebuah status yang menciptakan tentang keputusasaan dan kepesimisan masuk dalam ranah kewajaran. masih mewajarkan jika kami hidup dalam serba kekurangan, putus pendidikan, dll. karena bukan tanpa alasan memiliki alasan itu, sangat jelas alasannya memang. hampir semua lini kehidupan dan kebutuhan kami ketika itu di tautkan dengan ekonomi atau uang. sungguh, kehidupan dimulai dari awal -dari nol. kami mengungsikan diri ke sebuah kebun ditengah hutan terpencil, tanpa tetangga-tanpa apa apa. hidup menumpang ditanah seorang juragan china sekaligus mengurus kebun miliknya. rumah kami yg dulu adalah peninggalan ayah satu-satunya, tapi harus di jual demi  keperluan ayah untuk menebus rumah sakit dan biaya lainnya saat masih hidup  dalam masa perawatan. ya, kami hidup asing dengan status yatim setelahnya. oh ayaaah..

Saat itu saya masih berusia 7 tahun, tetapi masih sangat teringat jelas gambaran bagaimana setiap keadaan dan momen kehidupan.lagi lagi keluhannya adalah kami masih sangat teramat kecil dan ibu yg sudah terlalu tua untuk menanggung smuanya. ibu sadar, untuk memulai perubahannya harus melalui pendidikan. ya, kami 7 orang anaknya harus sekolah. tapi ibu lebih sadar jga bahwa ada jalan terjal yg harus di laluinya. BIAYA.

Teramat tidak mungkin membiayai smua anak anaknya sekolah dengan kondisi yang terkatung-katung.

bahkan untuk kehidupan sehari-hari saja bisa makan nasi kami sangat bersyukur dan bahagia..

____________________________________

Lalu, dimanakah YATIM  berperan?. (next part 2)

loading...

Check Also

Surat Cinta Untuk Adik

loading... Dari hati yang terdalam, bermuara cinta yang tak tergambarkan. Surat pendek ini bukanlah analogi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *